Showing posts with label Fantastic Moment. Show all posts
Showing posts with label Fantastic Moment. Show all posts

February 13, 2012

Sensasi Inagurasi 1718 Juli




Repost!
Coba merekam acara inagurasi agar tetap abadi di sanubari


Konsentrasi salat subuhku terpecah tatkala telepon berbunyi. Dari Fitri. Dia telepon pagi-pagi berniat memastikan aku sudah bangun pagi. Aku terharu sekali. Jam enam pagi, alarm catatanku berbunyi "jangan lupa bawa sandal dan peralatan mandi". Fitri telepon lagi. Bilang kalau dia berangkat terlalu cepat sehingga sudah sampai di Poins Lebak Bulus tempat kita buat janji. Ah...aku baru saja mau melangkahkan kaki. Ini janji kedua sama Fitri dan terlambat lagi :(.

Setelah cukup lama menunggu bis 510, akhirnya kita bisa melaju ke Kampung Rambutan dan berdesak-desakan. Sampai di Kampung Rambutan kita berjalan muterin shelter busway mencari rombongan. Bertemu Dina dan Etika di jalan. Setiap ada gerombolan orang-orang tak pikir itu rombongan FLP, eh ternyata bukan. Sampai akhirnya saya lihat wajah-wajah yang dulu pernah berkenalan. Kusapa satu-satu, salaman.

Kami berbagi cerita dibawah terik mentari pagi. Ketawa ketiwi. Menghapus galau hati karena bis tak kunjung berhenti di depan kami. Sesuap bubur ayam dan kerupuk dari Nisa, cemilan kacang dari Mbak Anisa, biskuit dari mbak Ida membuat perutku bernyanyi. Ditambah mainan tokek yg dibeli Fitri membuatku geli.

Pukul sepuluh baru meninggalkan Kampung Rambutan. Bersama peluh bercucuran. Dihiasi pengamen, pengemis dan orang jualan. Aku baca novel yang baru dibaca separuh jalan. Ditambah cerita Mbak Anisa tentang penggusuran rumah sampai cerita kehamilan. Aku tidur ayam karena ngantuk tak tertahankan. Kabar sudah sampai di Cikreteg yang membangunkan.

Lagi-lagi kita berjalan. Menikmati pemandangan orang-orang jualan. Pak Arya (sang kepsek) menghentikan.
"Kok pada jalan, kan suruh nunggu angkutan," begitu kata yang beliau teriakan.
"sambil nunggu angkutan, kita disuruh jalan," begitu jawaban dalam hati yg kuberikan.
"Kita naik mobil bak ya, soalnya tukang ojek melarang kita naik mobil angkutan.
"Hore...," sorakku tak kedengaran.

Akulah yang naik pertama kali. Fotonya belum di upload Fitri. Mobil bak mengingatkanku paga satu sensasi yang dulu pernah terukir dalam hati. Teman kuliah, ayah (sopir mobil bak) datang membayangi. Karena sesak, aku beranjak dari duduk berdiri berdekatan dengan Fitri dan Mbak Sari. Sempat menjerit karena tanganku terjepit dan mobil bak berhenti mendadak karena mobil di depannya pun berhenti. Ada jeda satu meter dari mobil satu ke mobil satunya lagi. Bikin miris hati. Jadi teringat perjalanan ke Magelang dan Evergreen, mobil yang kutumpangi berhenti pas tanjakan nggak bisa maju atau mundur lagi.


Foto : Ade Hermalina
Rintik gerimis menjelma hujan lebat, yak kami sukses kehujanan. Payungnya Fitri dikeluarkan. Raincoat dibentangkan. Kami tetap kehujanan sampai di tempat tujuan. Kedinginan jelma kehangatan. Makan dan candaan secara otomatis menghapus kelelahan.

Dua Jam Bersama A. Fuadi
Apa yg dipetik dari sesi ini? tentu saja Man Jadda wajada yang jadi intisari dari Negeri Lima Menara karya A. Fuadi. Kuatkan niat untuk meraih mimpi yang tinggi. Berdo'a dan serahkan pada Allah untuk merealisasikan mimpi.

Dari sekian pertanyaan kawan-kawan. Hanya satu yang saya ingat, yakni pertanyaan dari Mimin San.
Bagaimana proses kreatif membuat karya yang meyentuh pembaca hingga berderai-derai air mata? Itu penting sekali bukan? Bikin pembaca penasaran.
Jawaban :
Mas Fuadi justru mengaku kesulitan memasukkan perasaan. Karena terbiasa nulis berita yang tidak boleh menyertakan perasaan. Ada sebagian yang bilang 'flat' alias datar, tapi ketidakmampuannya itu telah berhasil membuat air mataku jatuh tak tertahankan. Bagaimana bisa? Karena dibuat grafik emosi dan ada ruh keikhlasan.

Sesi Hahahihi
Sebelum ketawa ketiwi, tentunya ada siraman rohani. Tapi kali ini tetap ber-hahahihi. Soalnya Ustadnya pinter meluci (eh melucu maksudku). Dari sekian pesan Ustad (Ghofar Al Ghifary, Ahmad Khoirul Zul Fithor, Misbahul Ikal Hidayat, Sayuda Patria, Arief Al Brebesi) ada satu yang kuingat yakni "Mampu karena mau, kuat dengan niat, bisa karena biasa" oleh Ust. Sayuda Patria, kalimat itu masuk dalam relung hati. Aku renungi sampai detik ini.

Satu game konsentrasi yang membuatku tersadar bahwa aku tak bisa konsentrasi. Menghitung beras tiga kali tapi salah lagi salah lagi. Sebenarnya perhitungan terakhir dari kelompok Potlot adalah 202, tapi Azmi dkk ragu-ragu, takut salah lagi. Karena itu kesempatan terakhir bagi kami. Sayangnya Ikal datang dan bilang 200, Oh Noooo...itu kan hitungan pertama kali. Dan suruh hitung lagi.

Hiburan dimulai dengan pembacaan cerpen "Lain Kali Jangan Begitu" karya Asa Mulchias oleh Mbak Anisa. Lanjut Trio gokil (Ikal, Azmi, Yuda) baca puisi berantai. Mereka mendeklamasikan bidadari, lontong dan kaos kaki. Ekspresinya itu lho ihihi...sensasi apalagi ini. Tak ada kata yang bisa mewakili selain ihihihi...
Tiba waktunya monolog oleh Mbak Herina (tentang wanita karir) dengan backing adegan Mas Tef, Pak Arya dan Mas Mumun yang berhasil mengalihkan perhatian kami (kami? aku kali). Ending mengezutkan membuat Mas Ervan akting kesakitan sampai melantai :P. Setelah itu sampailah puncak acara inagurasi.

Esok hari kita lewati sebuah tangga pendidikan. Tes pengetahuan. Tes ingatan. Tes konsentrasi kalian. Tes ekspresi alay nya Mas Ervan. Semua kita lalui dengan suka cita kan?

Lalu apalagi yang musti saya tuliskan, kawan?
Bukankah semua sensasi itu telah kalian simpan?
Tinggallah satu perjuangan yang pantang untuk dihentikan.
Dari kawan jadi lawan, haruskah ada permusuhan?
Jangan kawan, kita ukir sebuah keindahan persahabatan.
Kebersamaan ini tak boleh terlupakan.
Karena kita sejalan.

Selamat buat pramuda terbaik Fiksi (Fitri, Nain, Nisa), Terbaik nonfiksi (Etika, Ummu, Dina)

To All : Mari buat karya unik, agar penerbit melirik. Tentunya dengan selipan dakwah yang nyentrik.
Terimakasih buat segenap jajaran panitia, semoga amal ibadah kalian diterima Allah. Karya2 kalian jadi pilihan dan best seller.amin...

*Fiuh..bikin paragraf berakhiran 'an' dan 'i' gonta-ganti ternyata butuh energi tinggi.
Buktinya baru hari ini tulisanku bisa kalian nikmati. Semoga belum basi.*

I love you all
BR//Miss Rima
Kebayoran Lama, 21 Juli 2010

January 17, 2011

Inspirasi Pagi di Metromini

Bikin judul ispirasi pagi, postingnya siang hari. Gak matching hihi...

Jadi ceritanya tadi pagi saya naik metromini jurusan Blok-M. Sebenarnya males naik saat lihat -nyaris- tidak ada ruang buat berdiri. Tapi sebagai karyawan yang baik, tentunya ingin sampai kantor sepagi mungkin. Aku nekad naik, bertemu macam-macam bau. Bayar uang dua ribu. Trus baca SMS yang -subhanallah- tepat sekali dari Bu Desi.
"Hadapi setiap cobaan dan permasalahan dengan tenang...KARENA...boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal buruk bagimu dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah Maha Mengetahui (QS 2 : 216). Semua akan indah pada waktunya"

Setelah baca SMS itu, saya lebih tenang. Tidak mengeluh atau menggerutu karena desak-desakan.

Lebih parahnya lagi. Mau tambah penumpang lagi. Kita yang berdiri disuruh merapat, menghadap kanan kiri biar lorong itu bisa diisi dua orang. Mungkin karena pada jengkel, tak satupun penumpang menuruti. Lah mo geser ke mana lagi?
Parahnya lagi Si Kondektur bilang "Kalian manusia apa bukan, sih. Susah amat diaturnya?" Wah...nonjok banget tuh perkataannya. Emangnya mengisi metromini dengan penumpang berlebihan itu bisa disebut memanusiakan manusia?
Emangnya kita gak boleh dapat sedikit ruang untuk sekedar menggerakkan tangan dan kaki yang pegal. Ditambah setiap jengkal jalan macet pake banget #Curhat Jalan Raya.
Etah disadarkan siapa. Kondektur itu melakukan apa yg kupikirkan. Sempat terlintas "Emangnya gak bisa nolak penumpang? Sehingga harus menjejal-jejalkan manusia. Emangnye kite-kite boneka ape?"
Seketika kudengar kondektur bilang "udah penuh, apalagi Ibu gendut, cari bis lain aja." Hehe...aku geli mendengarnya, kasihan Ibu itu diejek gendut, ditolak pula :D.

Akhirnya Allah yang maha baik itu memberiku tempat duduk. Biar tidak merasaka macet, kukeluarkan amunisi paling ampuh yakni buku. Soalnya belum selesai-selesai tuh baca novelnya James Redfield. Padahal sudah dibaca setiap hari. Tidak terasa sampai juga di terminal blokM. Menunggu bis 34 gak sampai setengah jam langsung dapat bisnya. Alhamdulillah bisa merasakan kesejukan AC. Dihibur ama pengamen yang bisu. Nah lho...gimana dia bisa nyanyi kalau bisu? ya gitu deh. Pernah lihat pengamen yang hanya menggumam dan memainkan gitar alakadarnya kan.

Sampai di Gedung Samudera Indonesia disambut udara yang mendingin. Menelusuri lorong parkir. Lalu menerabas rintik gerimis. Sampailah di tempat kerja. Begitu setiap harinya.

*Ditulis saat cerita ini memaksaku untuk menulis*

October 30, 2010

Ada Pesta di Tengah Bencana

Pesta Blogger 2010 mengalami dilema, saat harus berpsata ria merayakan keberagaman. Antara bergembira atau berduka cita. Mengingat saudara kita di Mentawai, Wasior dan Merapi sedang menderita.

Akan tetapi PB 2010 sudah direncanakan jauh-jauh hari. Tak mungkin dibatalkan begitu saja. Karena menyangkut banyak pihak. Beberapa peserta mendadak membatalkan kehadirannya demi Merapi. Salut dah.

Pesta Blogger kali ini memang terasa aneh. Mau senang-senang tapi tertahan. Saya kurang semangat berangkat, sehingga datang telat. Mentang-mentang dah dapat tiket gratis dari Loenpia.net, santai banget. Sebelum berangkat harus setrika baju, ngeringin rambut, masuk-masukin buku yang mau dijual. Naik kopaja P 20 lama pula. Lewatlah opening ceremony.

Sampai di kawasan Epicentrum sempat bertemu jalan buntu. Untung tidak sendirian, tapi bersama Lina yang baru saja kenalan di Kopaja. Setelah telepon Hary, baru tahu tempatnya di mall merah Epicentrum Walk. Masuk dan clingak-clinguk cari booth Loenpia tapi gak nemu juga. Akhirnya saya lihat Didut, Yudi dan Sofyan.

Tidak ada oleh-oleh selain goodie bag keren. Soalnya saya jaga stand. Tidak ikut breakout session. Sempat mengikuti talk show tentang kematian ibu bersama Artika Sari Devi. Tapi tidak konsentrasi sehingga tak ada yang tersisa di memori otak :D. Sempat main ke booth Microsoft dan dapat pencerahan tentang windows live, software enam tujuh (kayaknya ini salah deh) untuk android.

Foto-foto tak kumpulin di http://www.facebook.com/album.php?id=1115147894&aid=2087623

August 06, 2010

Diary Milad Sekolah Kehidupan_Belajar Sabar

Kalau Pak Sinang berpesan "jangan tengok ke belakang", saya justru ingin sekali lagi menengok ke belakang. Karena ada hal manis di belakang sana yang belum saya catat dan bagikan ke teman-teman. Ada banyak pelajaran, salah satunya belajar sabar.

Belajar Sabar part I
Setelah berhasil cabut dari kantor jam 15.00 WIB, saya siap-siap berangkat. Target keluar rumah pukul 15.30 ternyata meleset. Saya jalan setengah berlari menuju jalan besar. Bis 74 yang saya tunggu tak kunjung lewat sampai jam empat. Sampai di Blok M antri beli tiket busway. Tetap nekad naik busway meskipun Nihaw sudah wanti-wanti jangan naik busway. Seperti biasa antrian naik busway panjang banget. Udah gitu busway kosong melenggang berkali-kali dihadapan kami yang berdiri antri. Inilah pelajaran sabar dimulai. Pukul 16.30 barulah saya bisa naik busway. Padahal pesan Nihaw, maksimal pukul 17.30 harus sudah sampai Stasiun Kota. Halte demi halte terlewati. Pukul 17.28 busway berhenti lama sekali. Ternyata lampu merah menyala. Ada perasaan lega saat terlihat museum bank Mandiri. Tepat pukul 17.33 saya sampai di Stasiun Kota. Itu pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Stasiun Kota. Berjalan cepat-cepat mengikuti arus manusia menuju stasiun. Saya pun sampai di jalur delapan. Dan tidak ketinggalan kereta. Alhamdulillah...

Untuk sementara waktu kami duduk di tempat duduk yang kosong. Karena tidak kebagian tempat duduk meskipun Nihaw berjuang untuk mendapatkannya. Tahu kabar bahwa Pak Jonru dan Mas Epri, kita pindah ke gerbong satu. Duduk di kursi Pak Jonru dan Mas Epri hihi... Dulu saya berkali-kali niat bertemu Pak Jonru dan Mas Epri. Dan ternyata Allah mempertemukan kami dengan cara yang semanis ini di Stasiun Senen. Akhirnya dengan santai Pak Jonru berbagi biskuit dan sedikit ilmu fotografi. Begitu pula Mas Epri, berbagi pengalaman EO, ngobrolin tentang sastra. Alhamdulillah dapat ilmu gratis plus bisa foto bareng narsis :).

Belajar Sabar Part II
Entah siapa yang memesan tempat duduk dekat Pak Jonru, kami tidak tahu. Yang jelas sampai di Cirebon pun tidak ada orang yang mengusir kami. Alhamdulillah lagi jadi orang yang beruntung dapat tempat duduk. Belajar sabar dimulai lagi saat kita sampai di Pekalongan. Mendadak kereta berhenti lama sekali. Dari pukul 24.00 sampai kami keluar (menukar tiket) sekitar pukul 02.00. Mas Epri antri menukarkan tiket dengan uang cashback untuk kami (makasih Mas).

Ada satu keluarga (Ayah Ibu, anak dan dua orang cucu). Mereka memberi pelajaran berharga bagi kami. Seorang Ibu yang sabar menghadapi anaknya yang nangis karena tangannya terjepit. Tak keluar keluh kesah, apalagi amarah. Ditambah dengan kejadian rel kereta anjlok yang mengharuskan mereka membawa barang bawaan yang banyak. Uluran tangan dari kami yg ingin membantu ditolaknya dengan halus. Pelajaran yg saya petik "jangan merepotkan orang". Mereka pun bergabung dengan trio backpacker untuk melanjutkan perjalanan.

Kalau yang lain bangun dini hari untuk sholat malam. Kita justru menunggu bis jurusan Surabaya atau Semarang. Atas saran tukang becak, kami menuju pom bensin. Konon disitu ada bis Surabaya yang transit. Kami naik becak, menikmati semilir angin virgin. Tak ada bis yang mau berhenti. Sampai ada bis mini yang berhenti di hadapan kami. Setelah Mas Epri nego harga, kami pun naik. Selang beberapa jam, bis berhenti. Bannya kempes. Belajar sabar lagi. Kami dioper ke bis lain. Sudah penuh, sehingga kami harus berdiri. Saya kasihan lihat nenek yang gendong cucunya, tapi tak ada yang mau memberinya tempat duduk. Saya lega setelah melihat nenek itu duduk. Saya dan Nihaw baru duduk saat sampai di Kalibanteng.

Jadi sadar betul bahwa kata-kata adalah do'a. Sebelumnya saya SMS Nihaw "...Gmn kalo naik kreta jur SMG aja. Ntar kita naik bis dari terminal Terboyo"
Meskipun kita tetap naik KA Gumarang, tapi tetap ngeteng juga.

Sampai di terminal Terboyo - Semarang, kami langsung naik bis yang siap berangkat. Tak ada pilihan lain selain bis ekonomi non AC. Kalaupun mau pilih yang ber-AC harus nunggu lebih lama lagi. Sebenarnya kasihan juga lihat anak-anak itu kepanasan, sampai akhirnya menangis di perjalanan. Si Ibu pun masih sabar menggendong anaknya, menghentikan tangisnya. Ada perasaan lega setelah keluarga itu turun di Stasiun Pasar Turi. Minimal amanah Mas Epri dan teman SMU nya telah kami laksanakan.

Sampai di Medaeng, kami dijemput Pak Saiful (sopir), Pak Diaz, Mbak Diah dan suaminya.
"Dari sini masih berapa jam lagi, Pak?" Celetuk Kang Dani. Pertanyaanku terwakilkan :)
"Kurang lebih tiga jam lah," kalau nggak salah itu jawaban Pak Diaz.
Makhlum pas di mobil itu, mendadak saya nggak konek dengan obrolan. Ada sesuatu yang mengganjal dan rasa nyeri yang tak tahan.

Memasuki kawasan Pacet, kami girang sekali. Selain karena sudah makan siang menjelang malam, ada hamparan lukisan Allah yang indah sekali. Sampai di Grand Hotel Trawas, kami salah jalan. Harusnya lurus, malah belok kiri. Tanya satpam malah salah jalan. Selain jalan terjal, juga buntu karena pagarnya ditutup. Akhirnya Pak Saiful menyetir mundur, karena tak jalan sempit. Seperti petualangan di negeri fantasi, saat mobil mundur ada suara anjing menggonggong. Setelah telepon Pak Suhadi, barulah sadar bahwa kita salah jalan. Pak Saiful berbalik arah menuju pasar buah. Sampailah kita di Newstart Trawas. Alhamdulillah...

Disambut senyuman Pak Sinang, teman-teman ESKA. Dijamu makanan enak plus canda tawa Mbak Aci, Mbak Anty, Kang Hadian, Kang Dani. Kami lupa kalau capek. Bahkan kami ikuti acara api unggun sampai penghujung (pukul 01.00). Karena sayang sekali kalau melewatkan curhatan Ibu Sinang (Panggil saja Bu Nung).

Sampai akhirnya tubuhku berhak mendapatkan haknya menikmati kasur empuk Newstart. Inilah hadiah dari sabar.

Belajar Sabar Part III
Kali ini cuman sabar menunggu pembagian doorprize hehe...
Keren lho doorprize nya bisa merata. Saya dapat tasbih cantik plus buku Jakarta Underkompor. Pas banget karena sudah lama ngincer buku itu.
Bukan sabar itu maksudku. Tapi sabar saat melepaskan tali temali yang mengikat tangan kami kelompok Si Berat :D. Jadi pengin yel yel lagi ...
Nggak punya yel yel oh asyiknya
Nggak punya yel yel oh indahnya

(Cinta satu malam mode on)

Sabar bagi Kang Hadian dan Kang Dani yang mau pasrah didandani jadi mummy. Disuruh ambil bola telur. Gaya mereka gokil abis. Saya tertawa sampai keluar air mata.
Sabar saat disuruh bawa semangka pake kepala dari makam pendiri Newstart sampai hotel.

Dari outbound inilah terasa sekali semangat, kebersamaan dan cinta anak-anak SK.

Saya terharu saat dengar Mbak Anty bilang dengan lantang " I lop u pull", saat Mbak Ugik bilang Love it, saat April bilang "karena saya merasa memiliki SK". Sementara saya justru karena malu jadi mau bantu.

Belajar Sabar part IV
Perjalanan pulang Pati juga butuh kesabaran. Bis berinisial 'W' terlambat sampai di terminal Pati. Sabar bagi Bapakku yang telah menunggu dari pukul 18.30 sampai 21.00 WIB. Dan saya baru sampai terminal Pati sekitar pukul sepuluh lebih. Terminal sepi. Bapakku sudah pulang. HPku lowbat, wartel tutup. Akhirnya saya terima tawaran tukang ojek. Meskipun tidak bawa helm untukku. Tukang ojek itu juga sabar menunggu saya mau dianter pulang. Dibujuk, dirayu biar percaya. Sampai di rumah Ibuku malah ingin nangis :(.

Bonus sabar : segelas cinta dari Bunda, sepiring rindu yang terobati plus segelas es degan ala Pati plus bebek goreng plus empek2 Palembang plus uang saku dari Bapak :).

Begitulah cara Allah menyuruh kita belajar sabar.
Kalau Nihaw bilang hikmah dari perjalanan itu adalah dia jadi tahu Semarang.
Kalau saya jadi bisa upgrade kesabaran.

*cari2 tombol upload gambar kok ga ada ya. Terpaksa gak pake foto neh.

June 07, 2010

Ada Cinta di Pulau Dua


Alarm agenda kopdar SK (Sekolah Kehidupan) Jakarta dan Bandung  berbunyi tepat pukul 09.00 WIB. Aku segera siap-siap. Tak terasa satu jam sudah lewat. Pukul sepuluh lebih baru jalan tanpa memikirkan letak RM. Pulau Dua. Sebelumnya sudah tanya teman kantor. Cari saja hotel Sultan, RM. Pulau Dua dekat-dekat situ. Begitu pesan dari teman yang kuingat. Seperti biasa, perjalanan ke Senayan naik bis 71/74 lalu naik busway. Karena malu-malu aku nggak nanya sama petugas TransJakarta. Kalau mau ke komplek taman ria senayan sebaiknya turun dimana. Sampai akhirnya shelter bundaran senayan sudah terlewat. Padahal rencana mau turun disitu. Aku turun di shelter berikutnya. Masih blank mau jalan kemana haha..bodohnya. Lalu tany mbak-mbak yang jalan di koridor. Kata mbaknya aku musti turun di Bundaran HI. Waw…kacau dah, mana dah keluar dari shelter lagi. Aku putuskan naik taxi. Percaya aja sama taxi burung biru. 
“Selamat siang, Mbak. Mau keman?”
“Taman Ria Senayan. Bapak tau Rumah Makan Pulau Dua?”
“Iya tau, mau kesitu?”
“Iya.”


Nggak ada setengah jam sudah sampai di depan pintu masuk RM. Pulau Dua. *Clinguk-clinguk* cari anak SK nggak kelihatan. Ya iyalah pos security kan masih jauh dari tempat makannya. Makhlum belum pernah kesana sebelumnya.  Lalu aku duduk, ambil HP dan SMS Kang Hadian. Assalam.Kang ni mimin.Dah sampe di RM pulau 2.Dkat security.Anak-anak SK dah pada kumpul dimana? Nungguin balasannya lama banget. Ternyata SMSku baru sampai saat Kang Hadian datang.
“Ini nama tempatnya apa? Mimin nanya nih,” Oalah ternyata Kang Hadian belum nyadar kalau aku sudah duduk manis dekat Bu Has.
“Ni Mimin dah datang Kang, gak usah dibalas,”
“Bentar tak balas dulu,” seketika HPku bunyi. Baru dapat SMS balasan singkat Nias..:D
Sebelumnya aku lihat Pak Sinang baru datang. Untung aku masih hafal wajah Pak Sinang meskipun baru ketemu sekali di Bandung. Aku kenalan dengan Pak Sinang ladi dan langsung jalan bareng masuk hehe…
“Anak-anak SK dah pada kumpul?”
“Wah nggak tau Pak, aku kan belum masuk,”
“Datang sama siapa?”
“Sendirian Pak,”
“Sekali-sekali silaturahmi gini,”
“Iya biar lebih dekat,”

Nggak nyangka ternyata sudah banyak yang datang. Sudah ada Ibu Dyah (EO acara makan-makan), Bu Has + Dek Aris, Mbak Indar sekeluarga (salut dengan Ibu satu ini,meskipun sedang hamil tua tetap datang), Kang Dani sekeluarga, Mbak Lia Octavia, Fiyan, Pak Yons, Mas Galih, Pak Yudhi waa…siapa lagi ya gak hafal. Yang belum disebutkan ngacung ya. Disusul rombongan Bandung (Pak Teha, Kang Hadian, Mbak Diah, Asma). Jeng Novi dan Mbak Dyah datang bareng. Disusul Nia Robie dan Divin Nahb. Bang Nursalam sekeluarga datang pas banget saat kita mulai makan. Disusul Mas Raul + istri, Pak Diaz sekeluarga, Pak Taufik sekeluarga. Absennya segitu dulu. Ma’af kalau terlewat. Sebagai anak rantau, tentunya aku bahagia bisa duduk bersama mereka. Seperti menemukan keluarga baru. Minimal bisa menghapus rasa kangen dengan keluarga di kampung halaman. Yang terpenting adalah satu rasa kebersamaan yang tak akan bisa kulupakan. Dan rasa cinta diantara kita *halah lebay dah.

Sebelum makan-makan dimulai, kita menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun' untuk Pak Teha. Selamat Pak! Moga dengan bertambahnya umur, tidak menyurutkan semangat menulis. Salut dah…atas semangat nulisnya. Moga sehat selalu ya Pak. Dilanjut sambutan dari Pak Sinang. Lagi-lagi ada satu kalimat yang menyentuh. Hidup adalah rangkaian suatu proses. Jangan kikir dan berat dengan harta. Apalah artinya seratus dua ratus ribu yang kita korbankan untuk satu kebaikan yang tak akan hilang ditelan zaman (kalau ini tak tambahi sendiri hihi..). Cukup bilang Ya Allah tolong aku. Seketika ada orang yang datang membantu. Kalau tidak ingat sedang di tempat umum, mungkin ada hujan turun dari mataku. Soalnya aku berkali-kali merasakan pertolongan Allah dari tangan-tangan malaikat yang DIA kirimkan untukku. Semoga tangan-tangan baik itu akan mendapatkan balasan rezeki melimpah lagi berkah dari Allah. Karena aku sendiri belum mampu membalas kebaikan-kebaikannya.

Singkat saja. Setelah kenyang semua, acara diskusi selesai. Ditutup dengan pesan-pesan yang semuanya sudah dicatat Mbak Lia. Jadi tidak perlu aku review lagi hihi.., lanjut bernarsis ria. Foto bersama. Pulaaang…Ah senangnya. Seperti dejavu, aku pulang bareng Pak Diaz, Fiyan dan Mbak Lia. Jadi ingat saat kopdar buka puasa bersama. Kita turun di Blok M. Jalan-jalan di Gramedia. Nggak beli apa-apa haha..Secara buku yang diincar lagi kosong. Jadi keinginan beli buku lain ditahan-tahan dulu. Dari Blok M square, kita pindah ke Pasaraya Grande. Malah ketemu Jeng Nov nov. Makan lagi bareng Mbak Lia hehe…*farah-farah.  Lepas waktu maghrib baru berpisah. Aku naik bis 71, Mbak Lia naik bis 75, Fiyan naik Kopaja.


May 10, 2010

We Are Breaking The Limits


Sebuah SMS dari sahabat masuk hari Minggu pagi pukul 05:52:15.  SMS itu mampu menghilangkan kantuk di pagi hari.
Aslm. Pg ini jam 7-8.30 di mesj Pd. Ind. diisi oleh Syekh Ali (org Madinah, bs bhs. Ind, yg suka isi TPI dg Ust. Yusuf Mansyur) teman manisnya beribadah. Insya bagus. 
Aku bergegas menyetrika, mandi lalu berdandan rapi.  Setelah siap pergi, ada ganjalan yang membuatku urung pergi.
"Bantuin angkat televisi dulu," mau nggak mau aku bantu temen sekamar angkat televisi, meja dan kardus yang akan dikirim ke Bandung. Sementara pikiranku melayang ke MRPI (Masjid Raya Pondok Indah).
"Berangkat bareng aku aja, nanti kan lewat menara 165."
Jam delapan lewat, tak kunjung berangkat, aku terancam telat.  Sampai di Menara 165 pukul 08:49. Seminar dimulai pukul sembilan. Alhamdulillah tidak terlambat.
"Lho nggak ikutan ke Bandung. Mending jalan-jalan ke Bandung. Enak," Huh! ajakan teman menggoyahkan keputusan.

Hari Sabtu sudah kubulatkan tekad untuk mengikuti seminar motivasi Breaking The Limits. Kebetulan aku sedang berada di bank PIM 1, sekalian transfer ke rekening Mas Rama. Sabtu sore temanku mengajak jalan-jalan ke Bandung. Waduh, dua pilihan yang sulit. Sempat goyah ingin membatalkan rencana ikut seminar.  Oh tidak, aku sudah berhasil menembus batas eksternal yakni harta, karena biaya seminar ini diluar anggaran bulanan. Karena batasan eksternal sudah ditakhlukkan, mustinya batasan internal harus bisa ditembus. Mungkin karena energi yang ditimbulkan oleh kekuatan do'a Mas Rama, atau karena pertolongan Allah yang menuntun langkah kakiku sampai ke Menara 165. Aku pikir ke Bandung bisa lain kali, tapi seminar ini tidak. Ke Bandung dapat capek, senang, kenyang dan bahagia. Sedangkan dari seminar, apa yang kudapat lebih lengkap. Selain capek, senang, kenyang, bahagia juga dapat ilmu dan pengalaman menarik.

Pertama kali masuk Menara 165, beradaptasi, cari-cari penunjuk arah Granada Room. Tapi tidak terlihat olehku. Telepon Mbak Leci dan Mas Rama tidak nyambung. Aku tahu mereka sibuk mempersiapkan diri. Jadi tak selayaknya aku ganggu mereka.  Sampai akhirnya, kuikuti aliran manusia menuju lantai dua. Ah ya, benar saja. Terlihat antrian registrasi seminar di lantai dua. Aku antri lama sekali.  Pesertanya banyak juga. Kata Mas Rama ada 1972 setengah (kurang lebih), entah siapa yang setengah. Peserta sebenarnya sekitar empat ratus orang. Yang terdiri dari berbagai range usia. Mulai anak-anak, remaja dan dewasa.

Ternyata namaku belum terdaftar. Memang aku mendaftar via SMS pada hari Jum'at. Akhirnya panitia membuat nametag baru untukku.  Lalu masuk di Granada Room. Disambut MC yang ganteng sekali, Mas Rio namanya. Disambut kerlip bintang disana sini.  Dekorasi ruangan dipenuhi bintang-bintangan di samping kanan kiri,atap dan depan. Full music. Hmm..ini seminar atau pertunjukan musik a.k.a konser? atau acara nobar. Dimeriahkan oleh Diferensia Band (band tunanetra) dan diberi kesempatan nonton rekaman perjalanan hidup.  Setelah pemutaran video, Mas Rama masuk dengan kostum star wars lengkap dengan light saber, didampingi oleh manajernya.  Tepuk tangan meriah menyambutnya.

I. INTELEKTUAL SESSION 
Kemampuan intelektual sama dengan pola pikir sesuai logika. Kita harus mengetahui limits. Dengan mengenal keterbatasan, kita bisa menembusnya. Batasan dibagi dua yakni batasan eksternal seperti harta, benda, lingkungan dan batasan internal seperti nggak percaya diri, males atau minder.  Kalau tidak bisa mengatasi batasan internal, niscaya baasan eksternal tidak bisa ditembus. Jadi batasan internal justru lebih berbahaya dibanding batasan eksternal.
Mas Rama bercerita tentang masa lalunya. Bahwa seminar ini ada karena Allah turunkan visi misi yakni satu rasa OPTIMIS. Berawal dari mimpi diwujudkan dengan visi misi, sehingga bisa berbagi sepotong roti di seminar ini. Semua orang diciptakan sempurna, baik berkebutuhan khusus atau tidak, tergantung pada kita MAU atau TIDAK. Karena menembus keterbatasan ada pada diri kita, jiwa pahlawan/pejuang ada dalam diri kita. Saat diputar video My Hero, sebuah video olimpiade bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Mereka yang tidak bertangan dan berkaki bisa lari, renang, lompat tinggi.

Untuk menghilangkan rasa jenuh, diputar video game Chrono Cross.  Surprise saat Mas Rama memainkan serulingnya mengikuti alunan musik Chrono Cross. Satu lagi surprise dari Mas Rama, saat Diferensia Band memainkan musik 'Morning Sunrise' secara live. Maksud hati ingin request evening sunset, tapi waktu jualah yang membatasi.
Ada satu kejadian menggelitik, saat Mas Rama mengundang personil Diferensia Band, Mas Barus dan Jaka Ahmad. Sebenarnya Mas Barus sudah memegang mic, tapi dikasih mic lagi oleh Mas Rama.
"Udah tahu gue buta, nggak bilang kalau sudah pegang mic." Lagian kan Mas Barus kan juga nggak lihat kalau Mas Rama memberikan mic hihi...

II. EMOSIONAL SESSION 
Hanya ada dua pilihan. Terus atau tidak, diam atau bergerak. If you try maybe you failed, but if you never try you absolutely failed. Jika kamu mencoba mungkin kamu gagal, tapi jika tidak pernah mencoba kamu sudah pasti gagal.
Emosi sama dengan nafsu. Bahasa latinnya movere artinya menggerakkan/bergerak, ditambah akhiran 're' untuk memberi arti bergerak menjauh.
Kualitas nafsu dibagi tiga yakni :
  1. Lawamah : nafsu yang banyak mengeluh, menyalahkan dan mencela diri sendiri. Levelnya apatis, sedih, takut
  2. Amarah    : nafsu rakus (lust), marah (anger), sombong (pride)
  3. Mutmainnah : Semangat (courage), menerima (acceptance), damai (peace)  
Kalau kita bisa mengelola delapan level, maka kita akan sampai level sembilan yakni damai. Jadi teringat satu tulisan dalam lukisan tujuh belas Agustusan yang dipajang di ruang meeting kantor tempat kerjaku.
Kadang perdamaian itu berawal dari cinta yang sederhana.
Nafsu, emosi yang berputar-putar dalam kehidupan kita. Jika kita tidak bisa mengendalikan nafsu lawamah dan amarah, cita-cita akan gagal. Jika fokus pada level apatis, sedih, takut, rakus, marah dan sombong, breaking the limits tidak akan sempurna. Ubah emosi negatif menjadi positif. Sistem syaraf seperti sinyal kabel telepon yang menyampaikan pesan otak. Jika otak memberi pesan sedih makan kita akan sedih. Untuk memberikan pesan positif, seyogyanya kita pakai kualitas nafsu mutmainnah.

III. SPIRITUAL SESSION 
Dengan mengoptimalkan intelektual dan emosional pasti sukses. Tapi nilai jika nilai spiritual terlupakan, sukses tidak bertahan lama. Karena visi misinya betul tapi salah dalam pencapaiannya. Sesi ini dibatasi pada satu poin spiritual yakni do'a.  Bahan pembuat do'a yaitu gelombang energi pikiran & perasaan (keduanya merupakan kata benda). Do'a itu senjata orang mukmin. Sesungguhnya do'a dan bala akan bertemu dan keduanya akan bertarung diantara langit dan bumi (HR Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Majid). Bahwa benarlah bahwa do'a itu penolak bala.

Mas Rama beserta panitia,
Terimakasih atas sepotong roti yang telah diberi
Mimin senang sekali dapat hiburan sekaligus materi
Let's break the limits
Let's say we are breaking the limits 

December 13, 2009

Go to Ragunan With Seli



Doh...mulai nggak produktif ngeblog nih hiks..., postingan di minehaway.com selalu saya copas ke sini hihi..., habis mo ditutup sayang juga. Kalau gak update juga ada yang kecewa.

Make something different if you feel bored. Kalimat yang muncul dari mulut bossku itu saya ingat sampai detik ini. Biasa jalan kaki, biasa naik angkutan, mobil boss. Jadi saya ingin mengikuti acara kantor “fun bike” sampai ke Ragunan. Konsekuensinya pegel-pegel sampai dua hari ini. Padahal saya hanya sekali jalan. Pulangnya naik mobil :P, daripada saya pingsan hingga membuat orang kerepotan.

Dengan seli (sepeda lipat) milik mbak Ratih, saya telusuri jalan Arteri Pondok Indah lewat Cilandak Town Square. Ada beberapa tanjakan yang harus saya lewati sehingga membuatku kepayahan. Sementara saya belum lihai oper gigi. Kalau sudah terasa aneh gowes, baru saya oper gigi hingga pas. Pas tanjakan otomatis pakai gigi 1, itupun masih berusaha sekuat tenaga agar bisa sampai dengan sukses. Kuncinya tubuh condong ke depan, agar bisa menggowes dengan ringan. Hal yang paling saya senangi saat melewati turunan. Sensasi melayang tanpa susah payah gowes, ringan, sejuk sampai saya senyum-senyum sendiri. Sampai tikungan sedikit kebingungan, untung ada Pak Handi yang setia mengawal saya. Dibantu menyeberang, diarahkan juga. Saat saya capek, suruh istirahat dulu biar rileks. Karena pertama kali gowes di Jakarta dengan medan yang lumayan sulit, saya selalu berada di belakang :D. Jelas kalah kalau dibandingkan dengan rombongan yang sudah biasa bike to work.

Sampai di Ragunan, saya dapat ucapan selamat dari Mbak Ratih. Ada juga yang meledek “Mimin mana? sudah sampai belum? Oh udah ya.., berarti yang lain sudah sampai” Wekeke…saya jadi barometer kecepatan gowes. Habis orangnya masih pantes pakai seragam TK / SD cewek, maksa ikutan gowes pula. Setelah istirahat sejenak, kita masuk kebun binatang Ragunan. Keliling-keliling sampai di danau. Makan-makan, foto session lalu lihat buaya sebentar. Lanjut keliling lagi, dan hujan lebat turun. Kita berteduh sebentar, lalu melanjutkan petualangan. Tapi bossku mempersilakan untuk melipat seli dan ikut mobil.

Ceweknya saya, Mbak Ratih dan Mrs. Bobby. Dan cewek hebat yang tetap bertahan gowes saat pulang adalah Mbak Ratih. Salut to Mbak Ratih. Memang Ragunan tak sebanding dengan Depok-Jaksel-Depok. Pantes saja Mbak Ratih mampu menakhlukkannya. Kalaupun dipaksa, saya yakin tubuhku juga kuat. Sempat mampir makan coto Makasar di jalan Ampera. Benar-benar kenangan tak terlupakan.

November 11, 2009

Film Religi Masakini "Emak Ingin Naik Haji"


Pic. By Asma Nadia

Menerabas hujan deras
Menguatkan kemauan agar tetap mengeras
Hingga sampai di XXI FX Senayan pas
Berada diantara pemain & crew film "Emak Ingin Naik Haji" dan media pendukung membuatku merasa senang bukan kepalang.
Disambut rebana, dipersilakan masuk oleh Mas Aditya Gumay.
Melihat dengan jelas artis-artis film Emak Ingin Naik Haji, ditambah Hadad Alwi, Sulis, Snada, Astri Ivo, Cici Tegal, M. Kholidi Asadi Alam(Azzam-KCB). Diawali tarian anak-anak kecil yang begitu lincah, lalu penampilan Ki Slamet dengan puisi bunda dan pencuri. Benar-benar perayaan hari pahlawan yang tak terlupakan.

***

Review Film Emak Ingin Naik Haji
Membaca buku "Emak Ingin Naik Haji" (Album pilihan Asma Nadia), mata sudah berkaca-kaca. Menonton trailernya juga membuat air mata menjelma kaca. Waktu itu saya sudah bilang "ni film bakalan sukses". Dan saat nonton gala premiere nya, kaca masih saja menghiasi mata. Dan ini tidak hanya terjadi pada saya. Hampir semua penonton film ini mengaku tak mampu menahan air matanya. Jadi siapkan handuk kecil atau tisu sebelum nonton. Selain membuat terharu, film ini juga lucu. Soundtrack pun menyentuh kalbu.

Itulah kenapa saya jatuh cinta dengan film religi seperti ini. Setiap adegan mampu mengaduk-aduk emosi. Tertawa dan menangis campur aduk jadi yummy. Dakwahnya tak ada kesan menggurui. Memiliki jiwa sosial yang tinggi. Akankah film seperti ini akan hadir kembali nanti?
100 thumbs up!

Diawali dengan big close up tangan Zein sedang melukis ka'bah. Lukisan itu akan dipajang saja, agar emak bisa memandangnya setiap kali rindu tanah suci. Zein ingin mimpi emaknya naik haji terealisasi. Hatinya teriris setiap emaknya membicarakan harapan dan impian naik haji.
"Hmmm, emak udah nabung bertaon-taon tapi duitnya belum cukup juga. Naik haji sekarang berapaan ya?
"Tiga ribuan, Mak."
"Jangan bercanda. Masak tiga ribu?
"Tiga ribu dollar, Mak. Sekitar 30 jutaan."
"Kapan, Emak bisa naik haji ya Zein? Simpanan emak aja baru 5 jutaan."

Juragan haji Saun sebagai tetangga emak sudah naik haji berkali-kali. Tingginya biaya naik haji tak masalah bagi keluarga juragan haji. Uang tabungan lima juta emak harus direlakan untuk biaya operasi anaknya Zein. Zein ingin mengganti uang emaknya. Semalam suntuk tak bisa tidur. Dalam kondiri kalut, Zein coba mencuri di rumah juragan haji. Tapi urung niatnya, saat mengingat suara emak membaca Al Qur'an. Adegan emak meneteskan air matanya di Al Qur'an itulah yang membuat saya tak mampu menahan air mata ini membasahi pipi.

Disisi lain ada orang naik haji untuk kepentingan politik. Agar ada embel-embel haji di depan namanya. Sehingga masyarakat tertarik memilihnya sebagai walikota.

Saat Zein membantu belanja di supermarket, ia mendengar pengumuman undian kupon belanja berhadiah paket naik haji. Zein girang bukan kepalang saat membaca nomor undiannya ada dalam daftar pemenang undian. Tapi takdir berkata lain, Zein kecelakaan. Di rumah sakit inilah letak benang merahnya.

Akankah Emak jadi naik haji?
Silakan menuju 21 terdekat dikota anda untuk menemukan jawabannya.
Buktikan anda orang islam sejati yang mencintai film religi produk dalam negeri!

Dan
Jangan buang tiket nonton Film Emak Ingin Naik Haji anda. Kirimkan potongan tiket beserta biodata dan komentar anda tentang Film Emak Ingin Naik Haji, ke alamat Jl. Puri Mutiara II no. 7 Jeruk Purut Jakarta Selatan. Tersedia hadiah umroh untuk 2 orang pemenang yang terpilih. Pemenang akan diumumkan tanggal 8 Desember. Keikutsertaan dalam promo ini tidak dipungut biaya. Promo ini berlaku untuk anda yang menonton sampai dengan tanggal 24 November 2009.

Judul Film : Emak Ingin Naik Haji
(Diadaptasi dari cerpen Emak Ingin Naik Haji karya Asma Nadia)
Sutradara : Aditya Gumay
Penulis Skenario : Adenin Adlan
Produser : Smaradana Pro & Mizan Production
Pemain : Aty Kanser,Reza Rahadian,Didi Petet,Niniek L. Karim,Ayu Pratiwi
Cut Memey, Henidar Amroe, Adenin Adlan, Helsi Herlinda
Gagan Ramadhan
dll

Salah satu testimoni teman tentang film ini :
2009/11/14 budi
kemarin sore bengong...
ke ambarukmo coba pengen liat 2012.. dan tentu saja tiketnya ludes
inget munep pernah nyebut pengen nonton "Emak ingin naik Haji"
ya sudah nonton itu aja...
sebenarnya tujuannya cuman pengen selonjor sambil makan popcorn caramel yang pake ember itu.. dan ternyata...
FILMNYA BAGUUUSSSSSSSSSSSSSSSS
untung nontonnya sendirian.. mewek2 soale hwhwhahahahaha
tapi gak sendirian kok, pas bubaran, liat penonton laen banyak juga yang mukanya sembab hehehe

October 26, 2009

Kenangan Pesta Blogger 2009





Ketika kita punya kemauan dan menguatkan kemauan, niscaya keinginan akan terlaksana. Jangan mau diperbudak waktu tapi waktulah yang jadi budakmu, sehingga kita bisa menentukan dengan bebas kemana kaki kan melangkah. Dulu saya memilih lembur kerja dari pada ikutan pesta blogger dan keinginan ikut pesta blogger pun tak terwujud. Tapi setelah mindset dirubah "saya pasti bisa ikutan pesta blogger", akhirnya saya pun bisa berada di antara seleb blogger seluruh Indonesia. Makasih loenpia atas kesempatannya dapat tiket gratis.


Bertolak dari Blok M bareng oelhpa, Ina, Mbak Wiwikwae, Ulie, Mizan, Mas Chakim, Kang Hars & Kang Fiangidital. Sempat muter-muter Blok M square karena nyari tempat sarapan yang dimaksud Mbak Wiwik dkk. Pin FORCE sudah laku 2, dibeli teman sendiri hihihi..., Makasih buat Ina & Oelpha yang mau jadi pembeli pertama.
Surprise banget bisa ketemu fotografer & karung bergigi hihihi..., saya pikir cuman Mizan sendirian yang ikutan PB 2009. Senang bisa berangkat bareng sama mereka. Sempat khawatir bakal berangkat sendirian. Bukan nggak berani, tapi karena belum tahu lokasinya jadi agak was-was kalau penyakit nyasarnya kambuh lagi. Makasih Mizan dah ngasih tumpangan mobil sampai tujuan.


Sampai di gedung SMESCO Indonesia sudah ramai sekali. Sempat kaget saat bertemu teman KBA (Madam Ummu Raisah). Sempat sounding2 sama madam Ummu tentang FORCE, dan merayu agar mau beli pinnya he..dapet dah 10.000 rupiah. Sampai lupa sama teman-teman Loenpia. Diajak foto di halaman yang ada tulisan SMESCO Indonesia. Sampai ketinggalan foto bersama loenpia. Beberapa rangkaian acara sempat membuatku menguap. Sampai akhirnya mataku menemukan replika Jedi di Starwars, yaaa...Bang Ramaditya Adikara Skywalker, He is a blinder blogger in the world. Sempat pegang lightsaber buatannya sendiri, foto bareng (nunggu kiriman foto dari Harry), diajarin menyalakan lightsaber yang biasa saya baca cerita nya via email & melihat gambarnya di MP. Dan ini pertemuan ketiga dengannya yang tentunya menjadi lebih dekat *suit suit.





Agak jengkel saat ditipu sama rapper *siapa gitu*, saya sempat berdiri dan melihat ke arah pintu. Ingin melihat tompi, ternyata dengan santainya dia bilang kena deh :D. Cuma suara Tompi, orangnya nggak ada hiks. Tapi tergantikan oleh Bang Rama kok hehe...Sempat satu kelas "Bridging The Gap" with Mr. Brown. Menurutku wajar saja seorang lulusan Sastra Inggris jago ngomong Bahasa Inggris. Tapi karena Bang Rama buta jadi terasa lebih spesial sehingga disambut applause meriah dari audience. Setelah itu nggak tahu kenapa dia ganti kasih applause buat saya. Sambil tepuk tangan dia bilang "applause buat Mimin" huhuhu..jadi terharu. Mungkin dia merasa nggak akan dapat kesempatan bertanya kalau nggak ada saya disampingnya haha...GR banget. Soalnya dia dah tunjuk jari berkali-kali tapi nggak dikasih kesempatan. Setelah saya pindah kursi di sebelahnya barulah dapat kesempatan bertanya dan berbagi dalam Bahasa Inggris. Kurang lebih dia mengatakan bahwa "gap" tidak hanya dalam lingkup besar (satu negara dengan negara lain) tapi juga antar manusia. Khususnya manusia cacat seperti dia. Bagaimana menjembatani jurang pemisah antara yang cacat dengan mereka yang normal? Mr.Brown memberikan jawaban yang sangat pas. Urusan sosial, politik tidak seharusnya menjadi jurang pemisah yang menimbulkan perbedaan. Mr. Brown memberikan contoh seorang autism yang menyampaikan aspirasinya dengan menulis. Begitu juga untuk orang cacat seperti Bang Rama. Ia musti gali potensinya menulis, bakat musiknya dll. Dan Bang Rama pun bisa, satu bukunya "Blind Power (Berdamai Dengan Kegelapan)" telah beredar di pasaran. Menyusul buku "5 Bidadari" yang masih progress. Belum lagi musik yang ia ciptakan. Dan kenapa kita harus kalah dengannya??

*Ambil kaca

Satu lagi, kita bisa ber skype ria dengan Mr. Arsalan Iftikhar. Arsalan Iftikhar is an international human rights lawyer, founder of TheMuslimGuy.com and Contributing Editor for Islamica Magazine in Washington DC. He can be contacted at arsalan@themuslimguy.com.

PS: Akhirnya bisa posting juga di antara lautan settlement :(
Selamat hari blogger yaw...

September 28, 2009

September Ceria

Terinspirasi dari lagu "September Ceria" yang dilantunkan Vina Panduwinata. Hari ini saya coba mempertahankan status saya sebagai blogger abal-abal. Semakin lama rumahku makin sepi saja, karena saya mulai jarang posting. Karena sibuklah, miskin benwit lah, gak ada ide lah dan seabrek alasan lain yang tak seharusnya tidak ada. Ingin rasanya berbagi ceria di bulan yang penuh bahagia. Kenikmatan demi kenikmatan dunia saya rasakan dari bulan Ramadhan sampai masuk bulan syawal. Yang menuntunku untuk bersyukur pada-NYA.

Untaian buka bersama dengan menu yang membuat cacing-cacing perut ketagihan. Dimulai buka bersama saat puasa pertamaku di Hongkong Cafe, lanjut buka bersama anak yatim di kediaman Pak Diaz bersama anak SK Jakarta. Lalu masak & buka bersama teman-teman. Menunya sapo tahu, oseng kangkung, bakmi goreng. Hari Jum'at buka bersama di kantor dengan soto Makasar sebagai menu utama, terakhir buka bersama teman satu departemen di warung Bu Kris. Saya pilih sup daging. Semuanya ada karena bulan Ramadhan tiba, tapi kini Ramadhan tlah pergi menyisakan kenangan-kenangan manis. Berharap bisa bertemu kembali tahun depan.




Kerinduan dengan keluarga yang tumpah ruah selama seminggu. Kalau cerita ini disimpan dulu untuk bahan lomba nulis :-D. Ada tawa ceria, makanan berbalut cinta, yang semuanya membuatku terharu dan ingin mengulanginya. Semoga hari raya korban bisa jumpa lagi dengan mereka.

Adapun ucapan lebaran yang masuk ke saya baik via SMS, email, facebook akan saya pilih pemenangnya halah..., dengan mendapatkan hadiah senyuman manis :).
SMS dari Lowo Ngeblue lucu tapi masih ada yang lebih aku suka yakni dari Dinda. Bunyinya
Mangan sate sak gulene, sego megono bumbu kemiri.
kapan wae lebarane, sugeng riyoyo idul fitri.
tumbar merico kecap asin, nyuwun ngapuro lahir lan batin


Kalau di Fb saya suka kartu lebaran dari Satria, sederhana tapi kesejukan embunnya begitu terasa menetes dalam jiwa.



Di bulan yang penuh keceriaan
Mimin mengucapkan Met Syawalan :-D (Met Lebaran maksute, tapi telat kan)
Mohon dima'afkan atas semua kesalahan
Semoga kita bertemu ramadhan tahun depan

August 19, 2009

Launching Buku EINH plus Workshop



Keberangkatan

Bis kopaja (P 20) terus melaju sampai daerah Menteng. Pikiranku sudah melayang sampai PDS HB Jassin. Sampai ada satu benturan keras membuyarkan lamunanku. Satu keranjang berisi otak-otak dan dua botol bumbu terjatuh hingga tercecer keluar bis, karena ulah Sopir yang menginjak pedal rem secara mendadak. Kulihat wajah penumpang yang menjual otak-otak itu masih bisa tersenyum. Tapi senyum pahit dipenuhi bayang-bayang kerugian. Ia pungut otak-otak yang tercecer di dalam bis. Lalu ia memutuskan untuk turun dan memungut otak-otak yang entah seperti apa nasibnya. Sampai di stasiun KA Gondangdia, aku dengar celoteh seseorang bahwa Si Penjual otak-otak itu memaki bis yang ia naiki.

Sampai di Tugu Tani, aku memenuhi kebutuhan kaki agar berjalan sampai TIM. Ternyata lumayan jauh dari Tugu Tani, sehingga bisa mencukupi kebutuhan mingguan tubuh yakni olahraga pagi.



Ruangan PDS HB Jassin

Pandanganku terlempar di deretan kursi-kursi kosong, setelah memberi salam pada Ditta. Aku pikir akulah peserta yang datang paling awal. Ternyata bukan! Ada Pak Nasrudin yang lebih awal datang. Beliau adalah sosok sepuh namun tangguh, dan semangatnya patut jadi teladan bagi kawula muda. Aku salut melihat semangatnya mengikuti setiap workshop yang diadakan oleh Mbak Asma. Dengan bantuan tongkatnya, Beliau berjalan tertatih menuju kursi. Pertama kali aku duduk di sebelah tas milik Pak Nasrudin, lalu pindah di kursi garda depan. Sempat terlibat satu obrolan menarik dengan Pak Nasrudin. Beliau utarakan kekecewaan terhadap ending cerpen Emak Ingin Naik Haji yang menyesakkan dada, sebenarnya jadi naik haji atau tidak. Dan dijawab langsung oleh Mbak Asma bahwa ending film dengan cerpen tidak sama. Ending film nya terharu tapi melegakan.

“Sudah baca cerpen ini?” tanyanya.

Jujur aku malu menjawabnya, aku merasa kalah cepat lagi dengan Pak Nasrudin. Yang membuat aku salut lagi adalah cerita Beliau yang sudah beli 5 buku EINH untuk di bagi-bagikan di Musholla dan menjadi buku rebutan di Musholla.


Sesi Launching buku EINH

Mas Boim Lebon sebagai pembawa acara telah berhasil mengocok perut kita jadi adonan kue hehe.., Setelah bernarsis ria, Mas Boim memanggil Mas Isa (suami mbak Asma) sebagai wakil Asmanadia Publishing House. Setelah Mas Isa memberikan sambutan, Mas Boim memanggil Mas Khidmat sebagai moderator untuk mengisi kursi depan disusul Mbak Asma, Mas Kurnia Effendi, Emak Aty Canser. Yang terakhir Mas Khidmat yang memanggil Mas Boim. Lalu Mbak Asma mulai bercerita mengenai proses cerpen menjadi film. Ditambah penilaian Mas Kurnia, Mas Boim dan Emak tentang sosok Bunda Asma.

Langsung Tanya jawab. Yang saya catat adalah pertanyaan dari Mas Billy.

* Mengapa cerpen EINH ini dikatakan filmis?


Mas Kurnia Effendi menjawab bahwa dengan membaca satu paragraph pertama, Beliau sudah bisa menilai bahwa cerpen ini filmis karena prosanya mampu menimbulkan adegan/bayangan sebuah cerita.

* Pertanyaan berapa lama menyelesaikan cerpen ini?


Butuh waktu seminggu – 10 hari untuk menyelesaikannya. Mbak Asma sempat membolak balikkan paragraph, berfikir bagaimana multiplot bisa menjadi 1 klimaks dalam cerpen. Sehingga jadilah cerpen multikonflik, multikarakter.

Mbak Aty Canser mengatakan bahwa peran utama di film EINH adalah satu kesempatan berbuat kebaikan dan membuatnya merasa terharu.

Selanjutnya adalah sesi pemutaran trailer film EINH.

Awalnya saya juga ingin menahan air mata karena sedang di tempat umum, tapi genangan air mata mulai mengaburkan pandanganku. Tak bisa dicegah, mengalir saja dengan mudah. Untung masih bisa terkontrol. Karena aku merasa ada kesamaan impian dan keinginan dengan sosok Zein yakni menaikkan haji orang tua.

Mas Khidmat juga mengaku tak bisa menahan air matanya saat menonton film ini meski nonton berkali-kali masih saja mengalir air matanya.

Memang benar kata Mas Boim. Ada dua hal yang membuat terharu yakni haji dan Emak. Feelingku mengatakan bahwa film EINH bakalan sukses.



Sesi Workshop

Kali ini aku harus puas duduk di belakang. Tapi tak mengurangi konsentrasi mendengarkan penuturan sang Sutradara film EINH, Mas Aditya Gumay. Ada satu poin penting yang perlu teman-teman ketahui yakni tahap awal membuat skenario bagi pemula adalah dengan bantuan membuat plot terlebih dahulu, setelah membuat synopsis tentunya. Satu plot sama dengan satu adegan. Cerpen EINH sudah bisa dijadikan sebagai synopsis.

Contoh Plot by Aditya Gumay dan Adenin Adlan (Penulis Skenario) :

Film dibuka dengan big close up tangan sedang melukis ka’bah dalam coretan yang sedikit kontemporer di atas sebuah kanvas.

Terdengar suara adzan subuh, emak terbangun dari tidurnya, keluar kamar.

Dst….(ma’af jika saya teruskan postingan ini akan sangat panjang)


* Pertanyaan Mbak Sita


66 plot bisa jadi 135 scene, karena ada pengembangan establish, saat adegan telepon yang harus pindah ruangan sehingga ada INTERCUT dan bisa nambah scene.

Pertanyaan testing dari saya adalah :

Bagaimana membuat skenario itu bisa pas/ sinkron dengan durasi/waktu yang telah ditetapkan?

Dan dijawab oleh Mas Adenin Adlan : tergantung yang ditulis itu adegan atau dialog. Biasanya satu halaman satu menit. Dan jawaban ini ternyata sama dengan workshop yang saya ikuti sebelumnya. Tambahan sedikit setelah masuk 10-15 menit harus sudah mencapai klimaks.

MARI KITA DUKUNG FILM INDONESIA YANG BAGUS!

July 12, 2009

Pulau Seribu Itu

Pertama tertarik dengan trip ini karena murah. Dengan merogoh kocek dua ratus ribu rupiah sudah bisa sampai ke Pulau Air, Pramuka, Karya, Karamba, Semak Daun, Semut. Sebenarnya saya sudah putuskan untuk gak ikut, karena kuota 20 orang sudah terpenuhi. Tapi karena saya berhasil melobi Sinta sebagai Team Leader 1, jadilah saya Team Leader 2 yang harus ngumpulin 20 orang lagi. Menolong teman-teman yang sudah ditolak Sinta. Tapi ada yang cancel last minute,, jadilah 33 orang (15 tim Sinta, 17 timku).

Berangkat jam setengah lima lewat. Karena ada 5 orang yang belum datang, kapal tertunda keberangkatannya. Bukan karena itu sih, kapal nya over load dan ketahuan sama pengawasnya. Dan tim 33 disuruh turun. Walhasil kuota kapal berkurang. Dengan semangat 45 kita sewa kapal umum "Cinta Alam" (CP : 081807839002) seharga 3 jeti untuk 100 orang. Awalnya baru terisi 60 orang, jadi kita musti tambah dua puluh ribu. Detik-detik terakhir sudah ada 100 orang. Jadi uangnya bisa buat makan malam. Sayangnya kapal telat datang, kita baru berangkat jam sepuluh lebih. Untung air laut cukup tenang jadi bisa lihat pemandangan luar.

Pulau Pramuka

Sampai di Pulau Pramuka waktu dzuhur. Ambil fin snorkeling, tapi fin XS sudah habis, jadi saya gak kebagian dah. Dapat fin nomor 38-40, kemungkinan lepas di air karena kegedean. Setelah kehilangan jejak kawan-kawan, akhirnya bisa menemukan home stay. Setelah makan dan sholat, kita langsung jalan ke Pulau Air untuk snorkeling.



Pulau Air

Pulau Air cocok buat yang baru belajar snorkeling. Jadi sebelum praktek, kita latihan dulu di pulau ini. Saya sempat diajarin guide, tapi gak tahan karena hidungku perih setiap air laut masuk, jadi gak latihan optimal. Apalagi ditambah dengan cerita teman yang melihat bulu babi. Jadi tambah khawatir. Rugi memang, karena gak bisa lihat keindahan terumbu karang emas. Meskipun pake pelampung, tapi tiap ada air masuk, saya gak tahan. Makhlum gak bisa renang, bisanya hanya gaya batu. Cuman bisa mupeng lihat teman-teman yang nyelam dan foto bersama terumbu karang. Snorkeling, Swimming, Diving itu jelas beda. Snorkeling bisa dilakukan siapapun meski belum bisa renang, karena ada jaket pelampung, kaki katak bisa digerakkan naik turun seperti mengayuh sepeda. Tujuannya agar bisa lihat pemandangan laut. Swimming jelas pake gaya katak dll. Diving musti tahan nafas, atau manfaatin kapal selam agar bisa foto bareng biota laut. Jika Swimming, Snorkeling, Diving di mix pastilah menyenangkan. Jadi saya harus belajar renang. Satu lagi pesan dari guide, jangan panik!

Ada sedikit cerita yang bikin perutku kram karena tertawa. Ada yang gak bisa renang tapi dia gak mau rugi, harus bisa lihat semua karang. Dengan ngandalin pelampung dia nyebur ke laut. Walhasil dia tabrak sana tabrak sini. Lucu lagi temanku yang takut tenggelam, setiap nyebur pasti teriak "tolong...tolong!" parahnya lagi sakin takutnya dia pepsi dilaut :D. Saya juga coba sekali saja, habis itu naik kapal lagi, karena sudah kemasukan air hiks...




Pulau Karya

Disebut Pulau Karya karena tempat orang-orang berkarya. Tiba disana langsung foto bersama. Habis nyebur laut dan masih basah-basah jadi kedinginan dah. Banyak buah pinus kering yang bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan. Rencana hunting sunset di Pulau ini, tapi sayangnya pengin pepsi. Waktu balik ke pantai, matahari sudah tenggelam hiks..., Tinggalah foto-foto narsis abis yang menuhin kamera.



Pulau Karamba

Sampai di Pulau Karamba cuman booking tempat buat makan malam di Nusa Karamba Resto. Pulang ke penginapan dulu, bersihin badan lalu balik lagi ke restoran. Dilanjutkan karaokean. Lihat pemandangan laut di malam hari. Di resto ini jadi tahu CP For Hire Nusa Karamba

(08161699636 & 021-70326644) bisa sewa kapal, alat pancing dll.


Pulau Semak Daun

Berangkat jam 5 pagi, tapi kapal belum datang. Padahal kita ngejar sunrise, untung masih bisa dapat foto sunrise. Sampai di Pulau ini, bakat wartawan jadi kambuh ciee.., saya wawancara tepatnya ngobrol-ngobrol dengan nahkoda, sambil lihat teman2 terjun ke laut. Namanya M. Soleh, sudah 47 tahun beliau hidup disekitar laut dan sudah jelajah Pulau Seribu. Sebenarnya Pulau Seribu gak ada seribu pulau, hanya sekitar 113 pulau. Pulau terakhir (baca: pulau ke 13) namanya Pulau Serbia. Masing-masing pulau memiliki sejarah yang unik. Dan tidak cukup sehari untuk mempelajarinya. Pak Soleh tinggal di Pulau Panggang, beliau juga bercerita tentang penanam rumput laut. Benih rumput laut sepanjang 60 meter seharga 160 ribu. Kesuburan rumput laut dipengaruhi oelh musim, kondisi air. Masa panen 40 hari, kadang untung kadang rugi. Rumput laut yang subur setahun bisa meraih untung besar, tapi karena kurang sedekah jadi setahun bisa rugi. Prediksi karena tercemar tapi ternyata bukan, seperti terkena hama(baca : kutu air) tiba-tiba memutih dan terkelupas lalu lepas. Tapi rumput dalam kondisi seperti itu masih bisa dimakan juga.

Pulau karya juga cocok untuk camping. Tapi tidak seperti Pulau Pramuka yang lengkap fasilitasnya. Saya dapat info dari salah satu anak Klub Selam IPB (Institut Pertanian Bogor) yang sedang camping disitu. Dia bilang harus pake genset untuk bisa dapat aliran listrik. Juga musti ngasih uang buat penjaga pulaunya.


Sumber Foto : MP Dita



Pulau Semut

Berhubung laut lagi surut, kita gak bisa menjejakkan kaki di Pulau Semut. Cuman bisa melihat dari kapal. Keunikan pulau ini adalah kecil makanya disebut Pulau Semut dan hanya ada pasir putih.


Penangkaran Sisik

Dari pulau Semut kita kembali ke Pulau Pramuka, tepatnya di penangkaran penyu jenis sisik. Melihat telur penyu sampai penyu gedhe. Disini kita dapat penjelasan panjang lebar dari Pak Salim yang pernah dapat penghargaan dari gubernur DKI Jakarta. Karena kepiawaiannya mengembangbiakkan penyu, mangrove dan tanaman lainnya. Sehari bisa mengeluarkan 15 ekor. Agar bisa mengetahui bayi penyu itu betina atau jantan, kita butuh 3 bulan agar bisa mengenalinya. Penyu tak hanya makan ikan, makanan apa saja yang dilihat penyu bisa dimakan tutur Pak Salim. Penyu mati saja dimakan, apalagi karang, ayam dll.

Penanaman mangrove di Pulau Seribu bisa karena pasirnya cocok untuk penanaman mangrove. Bibitnya bisa diperoleh dimana-mana. Dipagar dua sampai tiga bulan sudah tingi-tinggi. Ada banyak jenis mangrove yang Beliau sebutkan, tapi tak satupun nempel dikepalaku he..., penuturannya yang sangat cepat sehingga tak tercatat di HP.
Pak Salim juga memperlihatkan tanaman pengusir nyamuk yang ditanam di tempat khusus buatannya. Dimana tanahnya sudah dicampur dengan limbah kayu gergajian. Sehingga bisa tumbuh subur. Beliau bisa jual bibit zodia seribu rupiah.

Dari trip ini saya banyak belajar tentang kehidupan, pertemanan. Telintas bayangan jika diriku yang hanya bisa gaya batu saat berenang, lalu kapal karam, pastilah saya langsung tenggelam. Eh gak ding, kan ada pelampung. Tapi pelampung tak banyak menolong, buktinya saat snorkeling saya kemasukan air juga. Perjalanan pulang ombak nya mengerikan katanya. Saya gak lagi melihat pemandangan luar waktu itu, hanya duduk terdiam lalu merebahkan tubuh karena hampir mabuk laut.

Panjang juga ya postingannya. Nge draft sampai 3 hari fiuh...
Team Leader 1 bikin video special untuk trip ini, silakan tengok di sini
Foto-foto lain bisa dilihat di FB ku.

Untuk trip ke Pulau ini, saya merekomendasi dolphin ecotourism

June 30, 2009

Guyon Bareng Kak Ucon



Ini laporan workshop dongeng versi Mimin San. Memang sudah basi tapi masih enak dicicipi. Silakan mencicipi!

Janjian sama Uni Widya dan Anty di perempatan Fed-Ex pukul 11.30. Karena keasyikan nyuci pakaian, jadi keluar kos pukul 11.30. Sempat khawatir kalau Uni dan Anty menungguku. Berbekal 2 buku dan 1 buah mainan baru ala kadarnya kuberjalan cepat-cepat menjumpai angkutan D01. SMS dari Anty mengabarkan bahwa ia sudah sampai di bawah pohon rindang. Waktu itu, saya baru sampai di Pondok Pinang. Alhamdulillah Uni kejebak macet, jadi kita yang menunggu. Jakarta emang pas buat ujian kesabaran. Dimana-mana terjadi kemacetan. Setiap ada mobil hitam, dikiranya itu Uni, eh ternyata bukan. Begitu berulang-ulang, Sampai akhirnya Uni datang juga sekitar jam 12.00 WIB. Kami segera meluncur ke tempat workshop. Sampai di pom bensin, ada Jeng Pegi yang telah setia menanti selama 1 jam, subhanallah. Jeng Pegi masuk mobil, saya menyapa dan bersalaman untuk berkenalan. Padahal sebelumnya sudah kenalan di workshop pulpen. Karena penyakit pikun dini kambuh dan didukung dengan Jeng Pegi yang saat itu tampil beda, jadilah saya lupa.

Sampai di rumah Saudaranya Mbak Sita, saya jumpai Kak Ucon sudah duduk manis. Duh…jadi gak enak, kalah cepet sama pengajarnya. Begitu pula dengan teman-teman yang jauh (Ami, Ratih, Asma dkk) tapi sudah datang duluan, jadi malu. Gak tanggung-tanggung, Jeng Sita langsung ngajak makan siang. Tau aja kalau perut dah keroncongan. Menu makan siangnya nasi padang yang mak nyos tentunya. Karena Kak Ucon bilang selama pelatihan gak boleh makan, jadilah kita gilingan makanan duluan. Madam Ummu, Jeng Ima, Jeng Vera datang bersama oleh2 Mecca, disusul Rifa, Mas Kukuh dan si Chubby yang mirip teman kuliahku (Ups sorry lupa namanya). Terus Mbak Reiny dan Kang Dani sekeluarga. Ma’af Kak Ucon, kalau waktunya molor dari kesepakatan awal yakni jam satu.

Workshop ini lain dari workshop pada umumnya. Biasanya kita baca materi dulu baru praktek, yang ini kita praktek dulu baru baca materi setelah praktek dongeng. Saya yang gak mahir nari disuruh nari Amerika, Mexico, Afrika, Sunda. Gak kebayang kayak gimana gerak-gerikku. Pasti lucu, ngebayangin aja dah pengin ketawa. Padahal gak boleh ngetawain diri sendiri kalo ngetawain temen boleh. Walhasil pas praktek ekspresi wajah saya juga ketawa dengan ekspresi Mbak Wisye. Disuruh sedih malah ketawa lihat mbak Wisye ketawa *doh. Baru sadar kalau saya kurang ekspresif. Saya juga belum mampu menjelma menjadi kucing, kuda ataupun anjing. Akting jadi nenek pun gak mirip nenek. Emang gak bakat jadi pemain film ye. Bisanya cuman guyon(baca : tertawa). Kata Kak Ucon "mendongeng itu gampang, penilai terbaik bagi kita adalah anak-anak." Mereka ibarat malaikat yang bisa menilai kita dengan jujur. Untuk itu praktek dongenglah ya sama anak-anak.


Mendadak Guru

Karena usai workshop kita dikasih PR dongeng 10 kali, jadi saya coba praktek dongeng dengan anak-anak komplek kosku (Pipit, Keisyah, Yasmin, Fitri). Mereka suka maen di pinggir jalan. Ini kali pertama saya dengar panggilan Kak Mimin dari mulut para kurcaci. Setelah berkenalan, saya mulai mendongeng tepatnya bercerita di gang sempit pinggir kos. Ada orang lewat yang memanggilku Bu Guru :D. Jadi guru TK aja musti nyiapin uang 20-39 jeti, lha ini bisa langsung mendadak guru. Padahal gak ada maksud menggurui, niatnya hanya berbagi apa yang bisa dibagi.

Mereka belum tersentuh dengan dongeng, tak tahu dongeng itu seperti apa. Saya mulai mendongeng, tapi mereka justru komplain.
"Cerita tentang setan aja." Celetuk Pipit(weleh 10x).
Pipit punya cerita tentang setan, dan ia ingin bercerita. Tapi Yasmin main sabotase, Yasmin cerita terlebih dahulu sebelum Pipit mulai bercerita. Pipit ngambek, dan ingin memukul Yasmin dengan sandalnya. Amarah Pipit meredam, tapi kambuh lagi ketika Yasmin bilang Pipit songong. Pipit marah sekali dan menjambak (baca : menarik)rambut Yasmin sekencang-kencangnya. Sampai rambutnya rontok beberapa helai. Saya hanya bisa memeluk Yasmin agar dia bertahan, dan gak ikut nangis. Saya usap kepalanya, agar rasa sakit itu sedikit berkurang. Dan memberikan sedikit nasehat buat Yasmin & Pipit.

Saya akhiri pertemuan itu, meskipun mereka masih ingin bertukar cerita. Sebelum berpisah, mereka sempat menggoreskan tinta di note-book, bertukar nama, alamat, No telepon dan tanda tangan. Meskipun mereka rata-rata kelas satu naik kelas dua, tapi tulisannya lumayan bagus. Lalu Fitri, Keisyah dan Pipit mengantarku sampai di depan pintu gerbang kos. Bahkan mereka tak ingin berpisah denganku, mereka ingin ikut masuk. Melanjutkan berbagi cerita dan cinta.

PR pertama telah selesai saya kerjakan, sisanya akan saya praktekkan dengan keponakan dan calon anakku. Laporan 9 dongeng via japri ya Kak.

Kak Ucon,
Terimakasih untuk setiap kata yang membuat kita tertawa.
Terimakasih untuk setiap tetes keringat yang memacu semangat.
Buat semuanya,
Makasih atas indahnya kebersamaan.
Foto selengkapnya lihat disini

June 09, 2009

Menangisi Laskar Pelangi



Menunda hasrat emang nikmat. Ini hasrat nonton film Laskar Pelangi lho. Semenjak film LP (Laskar Pelangi) launching saya hanya berencana nonton tapi gak jadi. Sebelum mudik rencana mau nonton di PIM, tapi gak jadi. Makin lama merasa malu kalau nonton di bioskop, soalnya sudah gak in lagi. Pas ikutan KBA (Klub Baca Anadia) di rumah Uni Widya, diputar CD LP tapi gak sampai selesai sudah pulang. Mo pinjem juga gak enak. Soalnya di tasku sudah ada 1 buah VCD LP keluaran Jive-Collection, tapi bukan milikku. CD itu harus kukirim ke Purwokerto, titipan temanku yang kuliah di Jogja. Dibantu Mas Dian hunting ke carefour tapi belum ada, lalu esok harinya beli di Disc Tara - Bintaro.

Sampai akhirnya hari sabtu (6/6/9) aku jalan sama Mbak Mei ke Giant Lebak Bulus. Sebagai pelampiasan karena gagal mencairkan cek. Sebenarnya rencana awal pengin cari CD SAP, tapi pulangnya malah bawa CD LP. Terimakasih untuk Mbak Mei atas pengertiannya membeli CD LP untuk kita tonton bersama, setelah sekian lama gagal rencana nontonnya. Ditemani pizza hut dari Mas Manan, kita (aku, mbak Mei, Mbak Yeni) nobar di kosan. Ternyata ini jawabannya kenapa saya gak jadi nonton di Bioskop, kalau jadi pasti malu-maluin. Membaca buku LP saya bisa tertawa dan menangis, begitu pula saat nonton filmnya. CD pertama kita tertawa melihat akting anak-anak LP saat karnaval, dan kekonyolan lainnya. CD kedua, huwaaa...aku yang melankolis ini langsung menangis. Aku merasa menangis sendiri, tapi ternyata kita nangis sama-sama :D. Rasa haru itu mulai muncul saat melihat perjuangan Lintang berangkat sekolah, Pak Harvan meninggalkan Bu Muslimah dan anak-anak LP, disusul prestasi Lintang yang tak bisa dinikmati oleh Ayahnya karena meninggal pula, ditambah perpisahan Lintang dengan anak-anak LP.

Jadi memang layak, film ini dapat penghargaan dari Indonesian Movie Award. Meskipun ada beberapa adegan yang tak terdeskripsi dalam novel, tapi justru menambah kejelasan alur cerita. Sayangnya adegan Flo hilang di hutan hanya sebentar saja, sehingga kurang jelas dan detail. Terimakasih untuk semuanya yang terlibat dalam pembuatan film ini. Imaginasiku saat baca novel terjawab sudah. Keindahan alam Belitong, suasana desa Gantong sudah jelas tergambar. Sekarang tinggal nunggu film "Sang Pemimpi" yang masih proses.

Two thumbs up for this movie

Terimakasih buat Jive-Collection. Selama film diputar, gak ada gangguan, lancar dan gak putus-putus. Paling suaranya saja yang kurang jelas, mungkin karena speaker laptopnya yang memang gak OK.

June 01, 2009

Kado Bulan Juni



Tak terasa milad seperempat abad kini kulalui. Terinspirasi dari Ibu Farida Hanum (Guru ngajiku ~ Pengisi acara "Hikmah Pagi" di TVRI), doa yang musti kita panjatkan saat milad "Ya Allah panjangkan umurku, dalam keta'atan kepadaMU). Setelah Muhasabah Al Nafs (Introspeksi diri) tak banyak prestasi yang berarti terukir selama ini. Untuk itulah saya ingin sekali memberi kado untuk diri sendiri dan orang-orang yang kusayangi. Minimal bulan ini lahir 1 novel 6 cerpen. Sungguh saya ingin mengukir prestasi mendekati akhir masa remaja ini. Saya akan selalu coba ikut lomba. Kalahpun tak apa, yang penting dah coba. Karena Ust. Yusuf Mansur bilang dalam bukunya "Kun Fayakun"
Kalaulah kesusahan ibarat matahari dan kesuksesan ibarat hujan, maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi

Bolehlah diganti "Jika kegagalan bagaikan hujan dan kesuksesan bagaikan matahari, maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi"

Meski cambuk sering mengamuk, membuat semuanya remuk. Alhamdulillah saya masih kuat berpijak selama 2 tahun di Jakarta. Saya anggap ini prestasi untuk makhluk sekecil ini. Saya butuh do'a, dukungan serta semangat dari kawan-kawan semua. Ingatkan saya jika melupakan target di bulan Juni ini, saya tidak mau menyesal lagi. Saat masih kuliah, gak jadi kirim cerpen ke Annida untuk ikutan lomba LMCR. Tahun lalu juga gitu, mau ikutan lomba novel, eh..novelnya baru 6 lembar :(. Itu dulu karena saya belum tahu cara menulis dengan hati dan trik bagi waktunya. Sekarang beda, saya sudah ikut workshop menulis 2x. Malu atuh kalo gak berprestasi.

Puisi Satu Juni
Perkenalkan
Saya bintang yang selalu ingin bersinar terang benderang
Meskipun kadang remang-remang
Hati gak boleh gamang, mulai sekarang!

Do'aku hari ini
Semoga mimpi, harapan dan cita-cita bisa terealisasi
Angan-angan menjadi kenyataan

Do'akan aku kawan
Agar diberi kemudahan
Bisa melangkah ringan
Sambut kesuksesan

Nyalakan api semangat
Dan jangan biarkan angin memadamkannya
Terimakasih atas ucapan, perhatian dan kasih sayang kalian

Terimakasih buat teman2 yang mengganggu tidurku malam tadi :(

May 03, 2009

Inilah Workshop Murah Meriah



Workshop Menulis Bersama Penulis Buku Best Seller sudah berlalu. Namun situasinya masih terngiang memenuhi memori otakku. Hari ini saya coba kumpulkan testimoni untuk workshop yang super murah meriah, banjir hadiah lagi berkah.

Gimana gak murah, saya hanya keluarkan uang transport untuk mengikutinya. Dan jumlahnya pun tak sebanding dengan ilmu yang saya dapatkan. Diskon diberikan dari 20%, 50% bahkan 100% dan alhamdulillah saya salah satu orang yang beruntung mendapatkan beasiswa 100%. Dengan syarat mengirimkan tulisan pengalaman sejati. Semula saya siapkan 2 naskah. Dan saya pilih naskah terbaru untuk dikirim. Menurut Gola Gong "Tulisanku bisa jadi feature perjalanan, alurnya baik & menarik, gaya diary & hanya menceritakan, konflik kurang. Di sesi non fiksi ini saya dapat buku "Musafir" Alhamdulillah, terimakasih Mas Gong.
Inilah kenapa saya sebut banjir hadiah karena tiap hari ada aja peserta yang dapat buku. Saya yakin sebagian besar peserta mendapatkan hadiah buku.

Gola Gong mengisi 1 sesi untuk non fiksi di lanjutkan dengan Mbak Asma. Sungguh sabtu yang lucu. Kepiawaian 2 pembicara ini saat menyampaikan materi sering mengundang tawa dari peserta. Mereka mampu mengocok perutku hingga kaku. Didukung dengan moderator (Kang Dani) yang cukup berbakat, hari pertama lancar jaya. Memang kadang serius karena ada shock terapi membuat tulisan pengalaman lucu 5 - 7 menit. Dan hasilnya adalah tawa yang membahana.

Hari minggu juga lucu, penyakit nyasarku kambuh lagi. Karena saya cuci baju dulu, jadi berangkatnya jam tujuh lewat. Teringat cerita Mbak Widya, naik patas hanya setengah jam, makanya saya naik bis 76 AC, harusnya turun di Megaria Bioskop, tapi saya malah sampai terminal senen hiks... Sempat macet di sepanjang jalur busway Bendungan Hilir sampai Karet, karena ada perayaan Hardiknas. Spontan penumpang melayangkan pandang ke arah pertunjukan karate, tarian, drum band, dll.

Setelah tanya kesana kemari saya jadi geli dan tertawa sendiri. Alhamdulillah P20 dari terminal Senen justru lewat depan Taman Ismail Marzuki (TIM). Meski telat tapi gak parah2 amat. Kulihat Bunda Helvi dan mencoba mengikuti apa yang telah terlewati. Saat kita praktek mengganti ending cerita menjadi lebih kreatif. Cerita para peserta gokil abiz, lagi-lagi bikin saya terkikik. Mereka punya imaginasi tinggi. Ide-ide cemerlangku melayang ke awang-awang karena terbentur waktu. Meskipun ada kendala teknis saat pemutaran dokumentasi perjalanan hidup Mbak Helvi, tapi akhirnya sukses juga membuat mataku berkaca-kaca.

Secuil puisi untuk memori ini
Kan terpatri dalam hati
Memori menari-nari
Jangan pergi
Nyalakan api
Raih mimpi

Four thumbs up for this workshop.
Terimakasih banyak untuk Mbak Asma, Mbak Helvi, Mas Gola Gong, Mas Isa, Rifa, Marin, Pak Endo (Pengelola Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin) dan peserta.
Thank you very much
Doumo arogatou
Matursuwun sanget

March 25, 2009

Kopdar I With Tadotsugakuen


Hari minggu tgl 22 Maret 2009, tadotsugakuen'ers Jakarte kopi darat di Food Court Pasaraya BlokM. Yang hadir Fitri san, Riri san & saudara kembarnya, Nie, Masao Josaki san, me. Sekaligus farewell party Jo san, esok hari nya dia harus balik ke Japan. Jo san adalah Ni hon jin pertama yang datang ke Jakarta dan saya kenal. Hari ini dia sedang wisuda, 卒業おめでとう Jo san. Selama Jo san kursus Bahasa Indonesia di JCC, saya hanya bertemu sekali saja. Kopdar di Bogor, Senayan City, etc lewat coz saya telat cek emailnya. Beda dengan Fitri, Riri, Astrid, Nie, mereka sudah beberapa kali hang out with Jo san. Tentunya mereka lebih kenal Jo san dari pada saya. Koleksi fotonya juga lebih banyak, berhubung kamera yang saya bawa lowbat, jadi fotonya tinggal ini. Buat Riri san, foto yang lain kirim ke emailku ya. Atau share di FS, FB atau di upload ke Photobucket, Picasaweb etc.
Sayang sekali Jo san nggak jadi bawa pulang bakpia patok, saya baru dapat info dari teman kalo di Carefour biasanya ada bakpia patok setelah saya sampe rumah. Maaf, jika saya pulang dulu bareng Fitri san, coz saya harus belanja bulanan sekalian. Semoga pertemuan yang cukup singkat ini bisa tersimpan rapi di hati teman-teman semua.
Inilah titik awal persahabatan kita ya. Semoga bisa ketemu lagi di lain waktu dan bisa hang out sama-sama lagi di Japan hihihi...mimpi kali ya. Thanks for your time, guys.
日本国の言語学習の精神を守る, 次回を参照してください.



January 01, 2009

Tahun Baruan Yang Paling Berkesan


Dengan sedikit tawa dibalut tangisan & renungan belaka. Saya isi malam tahun baru 2009 dengan acara Muhasabah Menuju Qolbun Salim ke-2 di MRPI yang diselenggarakan oleh MQS. Dan ini saya lakukan baru sekali sampai saat ini dalam hidupku. Detail acara ini baca disini.
Tahun baru ini saya hanya ingin 3 hal hijrah ~ kuliah ~ nikah. Dan 3 hal ini saya targetkan 1 sampai 2 tahun kedepan. Kecuali hijrah harus tetap istiqomah sampai tubuh ini dimakan tanah. Seperti yang di utarakan di acara tafsir Al Misbah hijrah adalah berubah dari baik menjadi lebih baik, dari tempat sempit ke tempat yang lebih lapang. Jadi intinya saya hanya ingin menjadi yang lebih baik dari saat ini. Untuk kuliah masih cari-cari beasiswa, saya juga masih punya tanggungan yang harus diprioritaskan. Tentunya saya lebih memilih bantu pendidikan adikku minimal sejajar denganku daripada saya melejit dengan menyandang sarjana sedangkan adikku terpuruk sampai di SMU. Untuk nikah masih menunggu pangeran datang meminang. Semoga do'a di MRPI lalu dikabulkan oleh NYA. Jika sudah mentok, saya akan gabung dengan Majelis Sehati.

Yang jelas malam tahun baru 2009 adalah malam tak terlupakan. I'ts really fantastic & forgetable moment in the end and new year. I wish I could repeat this moment.


November 10, 2008

Hari Terakhir Indonesia ~ Japan Expo 2008


Kemarin hari terakhir IJExpo 2008. Dan saya terima ajakan kawan untuk datang. Naik busway dan transit berkali-kali. Dari BlokM ~ Dukuh Atas ~ Matraman ~ Lausi. Sampai disana jam setengah empatan. Setelah antri beli tiket @ 10.000, kita langsung menuju hall A untuk menyaksikan para cosplayer beraksi. Banyak karakter2 Jepang yang mereka perankan. Tapi karena kurang suka jadi adem ayem dan nggak berburu foto *padahal emang nggak punya kamera. Pengin foto sama cosplayer naruto tapi aku maluw...he.... Sebenarnya saya hanya lihat mamechi yang beraksi di panggung. Banyak yang berebut foto bersamanya. Tapi saya hanya melihatnya. Ya...masak saya foto sama mamechi. Kayak anak kecil saja. Di stand Daihatsu ada peragaan ninja dan kimono. Ada juga pohon sakura-sakuraan. Foto-foto dibawah pohon sakura. Dan juga masuk ke MRT (Mass Rapid Transit Jakarta). Ada juga stand NHK, Kompas Nikkei, Toyota dll.

Setelah sholat dan puas keliling di Hall A lanjut ke Hall D2 untuk melihat "Nihon no Matsuri" (The Traditional Festival Japan). Dan yang bikin penonton bersorak sorai adalah lagu "Kucing Garong" ~kekeke. Dan salut buat peserta paduan suara 100 orang. Satu lagu yang saya suka berjudul "Nada Soosoo" artinya berlinang air mata. Sebelum masuk Hall D kita sempat antri di stand Papaya Green Gallery pengin beli "tokiyaki" . Tapi antriiii..dan kita tidak menemukan penjual tiketnya. Ya...belinya pake tiket dan penjualnya berkeliling pake kostum warna orange. Akhirnya kita tahan rasa lapar dah. Ada juga stand pembuatan kue mochi, tapi karena diburu waktu tidak sempat menyambangi semua stand.


Setelah puas kita keluar menuju Hall B. Penasaran dengan "Obake" , tapi lihat panjangnya antrian jadi males dah. Di hall B lihat "Shin Kan Sen" 3D showing. Yakni pertunjukan kereta express di jepang. Jadi terbuai dengan keindahan Jepang nan mempesona. Tapi saya tetap cinta Indonesia kok. Stand2 Indonesia ada Stand Batik, Kayu Jati dan masih banyak lagi. Ada juga pertunjukan kuda tapi saya lihat dari jauh saja. Fotoku masih di temenku hik..., sementara ini dulu he...



Dari Hall B kita putuskan untuk pulang saja. Sebelum pulang sempat antri beli "Tokiyaki" yang "crabstick". Lebih komplit isinya ada beef & cheese, chiken & cheese. Yang jelas saya capek, tidur pun pules sekali.









October 26, 2008

Mengajar dan Belajar Blog


Pic. by Udey
Hari sabtu tanggal 25 Oktober 2008, komunitas blogger semarang Loenpia.Net bersama komunitas jejak langkah telah mengadakan pelatihan blog di perpustakaan diknas senayan. Pelatihannya dibagi menjadi 2 sesi pagi dan siang. Jumlah peserta untuk sesi pertama 10 orang, 5 orang mundur. Dimulai + jam 09.00 WIB s/d 12.00 WIB. Pelatihan sesi pertama cukup lancar karena sebagian besar pesertanya sudah memiliki account gmail. Karena kita pake layanan blogspot jadi peserta diwajibkan memiliki account gmail. Dilanjutkan sesi kedua + jam 12.30 s/d 14.30 dengan peserta sebanyak 12 orang, 3 orang mundur (data dari mbak Ari Asih kom. JL). Sesi kedua agak berat karena pesertanya lebih banyak dan sebagian besar tidak punya ID gmail. Dan terpaksa di tutup karena perpus diknas tutup jam 14.00. Tujuh panitia dari Loenpia.Net antara lain Mbak Wiwikwae, Mbak Kianaza, Nilla, Mimin, Udey, Ivan, Adam, Ragil. Kalian semua hebat. Jempol papat dah.
Kebetulan sekali peserta yang saya pandu cieee…pada sesi pertama bernama dwi a.k.a Wiwik, sesi kedua pun bernama Wiwik jadi sehari bertemu 3 orang Wiwik :D. Wiwik yang sesi pertama bertanya Gimana kalo ingin tambah foto yang di ambil dari flash disk. Saya coba mengajar tapi akhirnya saya justru belajar hahaha..., Ya saya jawab musti di copy dulu di hardisk padahal nggak harus. Karena belum detect jadi si Dwi kebingungan. Usut punya usut ternyata laptopnya pake linux. Si ubuntuers Udey dengan sigap membantu. Sebenarnya saya tau dey cuman kalah cepat aja he...ngeles. Malu sama sertifikat atuh...Dulu mas Fai pernah ngasih tahu kalo mo copy file caranya cp/lokasi file/file.ext/lokasi flashdisk. Tips kalo filenya banyak untuk meminimalisir resiko error copy bisa dengan cara cp-rf/folder/file.ext/folder tujuan. Adapun perintahnya /mnt/sda1 atau /mnt/hdax.
Pertanyaan si Dian di sesi kedua yaitu dia sudah download file template blogspot tapi bingung naruhnya. Dengan gaya sotoy saya di copy aja mbak trus paste di edit html. Eh..ternyata ga well-formed. Lho kok gini mbak. Oh cari aja template baru mbak. Setelah dicari dapat file zip. Mesti di extract dulu. Ketika saya ngajarin Wiwik si Dian iri “Lho kok pilih kasih gitu sih”. Ye…kan gantian mbak...Jawabku. Si Wiwik sempat bingung cari nama buat blognya. Yang lain dah pada posting dia masih mikir nama apa yang tersedia dan di sukainya. Sedangkan Nilla ngajarin sampe lay out. Selain karena waktu terbatas, juga dikarenakan porsi training gmail dari Udey terlalu over. Satu lagi trik nakal dari Udey yang saya baru tahu yaitu gimana cara filter email dari orang yang kita tidak harapkan. Yakni mark forward it isi alamat emailnya pengirim. Jadi otomatis emailnya balik ke pengirim. Wkwkwkw….Trus apa fungsi labs di gmail. Kalo dijelaskan bisa puanjang neh.
Setelah pelatihan selesai kita foto bareng, dilanjutkan meeting (ghaaayaaaa bangeets). Terus makan siang di Pondok Suryo Beger (Red. Bebek Goreng Surabaya) di Senopati telp. 7393358). Inilah saat-saat yang paling menyenangkan ya…Makan gretongan bikin ketagihan. Kapan ada pelatihan blog lagi *ketagihan. Sebelum pulang kita mampir ke Wetiga weleh…dekat banget ma kosku. Tapi berhubung Wetiga belum buka saya pulang saja. Nggak ikut nobar dah.